Cerpen Santri - Hari Santri ini adalah Hari Ulamanya esok | Aziz Faturrohman
HARI SANTRI INI ADALAH HARI ULAMANYA ESOK
Oleh : Azis Faturrohman
Senja sudah
terlihat suram dalam pandangan Kyai. Usianya yang sudah sangat sepuh membuat
Kyai tak mampu lagi melakukan banyak aktivitas yang dulu sering Ia lakukan.
Tapi hebatnya, keadaan ini bukanlah kendala yang bisa menghalangi langkahnya
untuk selalu bersyi’ar menghidupkan agama dan mendidik santri santrinnya.
Kyai,
dengan sebutan inilah kami memanggilnya. Nama aslinya adalah Kyai Yusuf,
Pimpinan salah satu Pondok Pesantren di daerah Tasikmalaya. Entah siapa Ia,
tapi yang ku tahu Kyai ini adalah khalifah dalam bimbingan ilmu semua santrinya.
“Mir,
besok tolong antar Yai pergi, bisa ?” Tanya Yai dengan suara lembut pada salah satu santri yang akrab dengannya. “Muhun Yai, InsyaAllah” jawab Amir mengiyakan
ajakan Kyai dengan nada pelan sambil nganguk pada Yai.
Oh
iya, Amir tergolong santri yang nakal di pondoknya -Disini aku tidak bermaksud
untuk membicarakan dirinya dan jika ia membaca ini ku harap ia mengerti-,
mungkin karna kelakuannya inilah yang membuat dirinya dikenal banyak orang
termasuk Kyai Yusuf. Dia juga merupakan pemilik dari sarung hitam dengan
sedikit hiasan batik dibawahya -ku kira ini penting untuk diceritakan.
Entahlah, Aku ingin membicarakanya-.Tapi jauh dalam perlakuannya itu, Amir
merupakan sosok santri yang hidmat dan sangat patuh pada Kyai. Amir mulai
menjalani hidupnya sebagai spesies bersarung –Entahlah, Amir sering menyebut
kata ini untuk mengganti kata santri yang dulu tidak Ia sukai- di pondok Kyai setelah paksaan dari kedua
orang tuanya karena kelakuan dirinya yang mulai susah diatur dirumahnya.
***
“Huh!,
Apa susahnya membuatmu tinggal di
Pesantren. Mamah hanya ingin melihatmu kembali ketika kau bisa merubah sikapmu!”
gerutu ibunya Amir, Bu Susi namanya. Ketika merasa kesal dengan perlakuan
anaknya yang selalu menghilang dari rumah setiap akan di berangkatkan ke
pesantren. “Dan jika kali ini kamu berani kabur lagi, Mamah akan menyita semua
barang barangmu dan menguncimu dikamar!” sambungnya. Karena tidak ada pilihan
lain, Amirpun kali ini bersedia menuruti keinginan Ibu kandungnya itu.
Dititipkanlah amir pada Kyai yusuf oleh kedua orang tuanya –Sebentar, jika kalian menganggap ini
merupakan cerita dari film Pesantren Rock n Roll, ku kira ini bukanlah cerita
itu. Alasannya bukan karena endingnya Amir tidak bisa menikahi anak dari Kyai
Yusuf, walaupun memang benar karna anak dari Kyai Yusuf tidak ada yang
perempuan, tapi karena memang cerita amir tidak sama. Bisa jadi kebetulan
pengenalan cerita Amir sama dengan yang diceritakan dalam film tadi-.
Disinilah
Amir mulai belajar banyak hal bersama Yai. Yang awalnya amir adalah orang yang
sangat malas ketika bersamaan dengan Kyai, karna dulu Ia hanya menganggap Kyai
adalah orang tua yang sangat membosankan. Tapi saat ini Ia merupakan santri
yang paling dekat dengan Kyai Yusuf. Sepertinya karena kesabaran dan kelembutan
hati Kyailah yang berhasil membuat Amir banyak berubah. Asal kalian ketahui,
dulu amir adalah orang yang paling anti dengan ngaji. Menurutnya itu hanyalah
hal yang membosankan dan menghabiskan waktu saja. Suatu ketika Amir dipaksa
mengaji, Ia malah tertidur.
“Amir jangan
tidur nak, toh kamu sendiri yang ingin merubah sikapmu. Ya ini ngaji.” Hanyut Kyai
setelah beberapa santri lain membangunkannya.
“Ini Romantis
Kyai.” Jawabnya ngawur. Amir juga merupakan satu satunya santri yang berani
banyak bicara dengan kyai -ku kira ini bukan prestasi-.
“Emang kamu tau
apa itu Romantis ?.” lanjut tanya Kyai padanya dengan mimik muka yang sedikit
penasaran sambil menoleh padanya.
“Romantis itu
Kyai, kedipan mata seorang santri ketika merasakan lelahnya di ujung kajian”
ucapnya ngawur lagi. Amir juga orang yang sangat pandai bicara –entah mungkin
hanya karena ia bangun tidur- dan cerdas. “Lebih Romantis lagi Yai, suara
dengkuran seorang santri yang menikmati jalannya kajian” lanjut ujarnya. Yai
hanya tersenyum mendengarkan semua obrolan ngawurnya. “Tapi puncak Romantisme
Yai, adalah suara dengkuran seorang santri yang masih terdengar walaupun kajian
telah lama usai” katanya menyelesaikan obrolannya. Semua santri tertawa
mendengarnya, Termasuk Yai –dan kalian mungkin tahu itu adalah obrolan Sujiwo
tejo yang sudah di ubahnya ke dalam bahasa kehidupannya sendiri. Tokoh inilah
yang sangat diidolakan Amir-.
Obrolan
ngawur Amir inilah yang selalu membuat Yai ingat dan penasaran pada anak yang
satu ini. Sampai suatu ketika Yai menyuruh salah satu santrinya untuk
memanggilkan Amir dan menyuruhnya datang ke rumah Kyai. Ia bermaksud mengajak
Amir untuk menemaninya berjalan jalan mengelilingi pesantren.
“Nak,
tolong panggilkan Amir. Suruh Dia ke rumah Yai” sahutan Yai pada salah satu
santrinya yang tak sengaja lewat ke depan rumahnya.
“Oh
muhun Yai” artinya iya, jawab Rizki santri yang tak sengaja lewat itu sembari
menoleh dan membungkukan badannya pada Kyai.
Sudah
menjadi kebiasaan bagi Kyai berkeliling sekitaran Pesantren dan melihat santrinya
di pagi hari. Baginya hal ini sangat menyenangkan. Bukan hanya dapat merasakan
udara yang segar saja, tapi melihat dan membantu santrinya membersihkan
lingkungan Pesantren di pagi hari merupakan pemandangan yang paling Kyai sukai.
“Assalamualaikum!”
teriak seseorang yang tak lain adalah Amir terdengar dari depan rumah kecil
Kyai. Mungkin karena Amir merupakan Santri baru, Ia belum terbiasa dan belum
belajar banyak hal tentang kesantunan. Ditambah lagi kebiasaan bicaranya yang
kasar masih sangat akrab dengan dirinya.
“Wa”alaikum
salam” jawab Yai dengan suara pelan. “Kamu toh Mir, sini Yai mau ngajak Kamu
keliling Pesantren!” lanjut Yai mencoba mengajak Amir berkeliling supaya
terbiasa dengan lingkungan Pesantren.
“Mau
apa Yi ?. Jam berapa sekarang, bukannya masih pagi ?” sanggahan Amir seakan
menolak ajakan Kyai sembari memperlihatkan wajah tidak setujunya.
“Justru
itu, Inilah waktu romantisnya santri. Toh bukannya Kamu suka itu ?” ujar Yai
tersenyum dengan wajah mengejek amir karena ingat dirinya pernah mengatakan
kata ini.
“Cobalah
biasakan bangun pagi Mir, jangan malas!. Banyak hal menyenangkan yang bisa kamu
lakukan” Nasehat Kyai pada Amir dengan nada lembut sembari menepuk punggung
Amir dan mulai mengajaknya berjalan.
“Tidak
Yai !” seru Amir menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah Yai. “Tidur
bukan berarti pemalas Yai, tapi begitulah cara santri beralih dari kehidupannya
yang kacau untuk lebih menikmati kehidupan mereka yang diaplikasikan dalam
mimpi” Ujarnya ngawur kembali pada Kyai dengan suara yang dimirip miripkan
pujangga -Ku kira ini hanya alasannya sajalah, yang pada dasarnya Amir
memanglah santri pemalas yang banyak tidur-.
“Kamu ini toh Mir,
ngawur !” kata Yai tersenyum dan berjalan kembali sembari menggelengkan
kepalanya seakan aneh dengan jawaban anak yang satu ini.
Berjalanlah keduanya
mengelilingi lingkungan Pesantren sambil beberapa kali bercakap cakap. Disini
Kyai menceritakan banyak hal termasuk sebuah tanah di dekat mesjid pesantren yang
meruapakan pemberian dari salah satu pejabat beberapa tahun yang lalu. Yai juga
memberitahu niatnya pada Amir bahwa Ia ingin membangun sebuah Madrasah
sederhana yang bisa digunakan ngaji bagi para santrinya. Namun Amir hanya
mendengarkan obrolan Kyai sesukanya saja. Ia menganggap bahwa itu semua bukanlah
satu hal yang penting.
Karena seringnya
bersamaan dengan Kyai, banyak hal yang membuat Amir berubah menjadi santri yang
santun dan paling akrab dengan Kyai. Ia juga merupakan salah satu santri kepercayaannya
Kyai.
***
Berangkatlah Amir
memenuhi ajakan Kyai tempo dulu untuk mengisi pengajian di satu daerah dengan
motor sederhana pemberian Kyai yusuf padanya. Motor inilah yang sering Ia
gunakan untuk membantu Kyai dalam melakukan banyak hal. Ketika pengajian
berlangsung, seperti biasa Amir hanya menunggu diluar sembari menunggangi
motornya itu. Pada saat itulah terdengan suara seseorang yang meminta tolong
karena barang bawaannya yang diambil paksa pencuri jalanan. Dan kebetulan suara
itu mengarah pada arahnya Amir. Iapun sepontan langsung menghentikannya. Asal
kalian ketahui, Amir adalah santri yang pandai dalam beladiri setelah dirinya
banyak belajar dari Kyai, ditambah lagi kebiasaan berkelahinya dulu yang tak
pernah takut dengan siapapun. Akhirnya pencuri ini bisa dihentikan, dan tas hasil
curian tadi dapat dikembalikan Amir pada pemiliknya. Namun sayang, si pencuri
berhasil melarikan diri. Amir berusaha mengejarnya tapi si pemilik tas
menghentikannya. “Biarkanlah, tak apa” ujarnya. Dia sangat berterimakasih
padanya karna semua barang dan bisnisnya yang ada dalam tas itu bisa kembali
padanya. Ia berusaha membalas kebaikan Amir, namun Amir menolaknya. Karna Amir
selalu menolak balas budinya akhirnya dia menyerah dan hanya memberikan kartu
namanya saja pada Amir. “Ambilah kartu nama ini siapa tahu nanti kamu
membutuhkannya Nak” kata orang itu pada Amir dengan wajah pasrah karena tak
bisa membalas kebaikannya.
Setelah pengajian
usai, tanpa sepengetahuan Kyai, Amir menyembunyikan kejadian tadi dan langsung
mengajak Kyai pulang. Sesampainya
dipesantren masalah baru yang tak diduga menghadapi mereka. Beberapa orang tak
dikenal menghampiri Kyai dan bicara banyak dengan Kyai. Ternyata mereka adalah
Agen yang sedang menyelidiki salah satu pejabat yang tertuduh melakukan korupsi dan di duga sebagian dari hasil
korupsiannya di belikan pada sebuah tanah yang disumbangkan ke pesantren Kyai
Yusuf. Kyai sepontan syok, seakan tak percaya dengan apa yang dibicarakan
beberapa orang tadi. Kondisinya yang lemah membuatnya pingsan dan mengharuskan
beberapa santri memangkunya kerumah Kyai. Karena keadaan Kyai yang tak mungkin
untuk diajak bicara kembalI, Amirpun meneruskan berbicara untuk menyelesaikan
masalah ini. Namun sayang, tanah yang ingin dijadikan sebuah Madrasah itu tidak
bisa di pertahankan Amir. Mereka menjualnya kembali karena tanah itu merupakan
uang dan aset Negara.
Setelah Kyai Yusuf
siuman, Amir tak berani membicarakan tanah Kyai yang sudah hilang dijual. Amir
hanya sebeberapa kali menyela obrolan lain ketika Kyai bertanya tentang
tanahnya itu. Amir membantu Kyai sarapan dan mengistirahatkannya kembali,
ketika ia beranjak pulang diluar rumah Kyai Ia berniat memperjuangkan kembali
tanah yang menjadi penyimpan niat baik Kyai yusuf itu. Setelah beberapa lama
memikirkan cara, teringatlah Amir pada sebuah kartu nama pemberian dari seseorang
yang dibantunya tadi siang. Dengan rasa senang dan banyak harapan Amirpun
menghubungi orang tadi dan mencoba untuk meminjam beberapa uang agar dapat
membeli kembali tanah yang diinginkannya itu. Namun Allah berkata lain,
ternyata orang yang dibantunya tadi siang adalah pemilih perusahaan sukses dan
juga besar di Jakarta. Sebut saja namanya pak Arman. Pak Arman sangat baik pada
Amir, Ia bukan hanya meminjamkan uang saja tapi juga memberikan seluruh biaya
pembelian tanah sekaligus modal untuk pembangunan Madrasah yang di inginkan
Kyai. Dibelilah kembali tanah itu, pembangunan Madrasahnyapun dikerjakaan
sendiri oleh santrinya, Bukan karena Pak Arman tidak menyediakan pekerja dari
luar, hanya saja ini merupakan keinginan dari semua santri tersendiri yang merasa
hidmat dan harus banyak balas budi pada Kyai. Hal ini juga sudah lama
direncanakan Amir dan ketua Rois -Rois adalah pimpinan dari para santri di
pondok pesantren. Kalau Amir menyebutnya dengan Ketua Spesies Sersarung- untuk
berusaha menyenangkan Kyai ketika Kyai telah sembuh. Salman namnya, Dia adalah
pimpinan dari para santri yang sekaligus teman dekatnya Amir. Pemilik dari peci
songkok berwarna merah -Kurasa ini juga penting aku ceritakan karna Amir sering
meminjamnya tanpa sepengetahuan Salman. Entahlah bagi mereka ini sudah biasa,
bisa jadi karna mereka sudah menganggap semuanya bersaudara “jadi barang
barangnyapun milik bersama!” begitu kata Amir sewaktu bercerita. Aku juga ingin
bilang kalau ini bukanlah yang menjadi rujuanku tentang tema kebiasaan santri
yang menginspirasi orang lain-.
Namun takdir berkata
lain, Kyai yang sudah lama menemani mereka tidak bisa lagi bersama mereka.
Keadaan Kyai yang sudah sangat sepuh tidak bisa lagi membuat Kyai bersamaan
dengan para santrinya dalam banyak kegiatan. Kyai yang terkenal dengan kesederhanaan
dan kerendahannya itu menemui azalnya setelah melaksanakan solat magrib. Semua
santri menangis dengan kabar yang diumumkan Amir dalam TOA mesjid. Bukan hanya
itu, Amir juga tidak kuasa menahan tangis ketika mengumumkan kabar ini di
masjid. Sesekali ia terdesak karena tidak kuat dengan keadaan ini. Amir tak
bisa melupakakan Kyai yang Ia sudah anggap sebagai orangtuanya sendiri. Banyak
orang berdatangan untuk melihat sosok Kyai yang luar biasa ini.
Kemudian Kyai Yusuf
dimakamkan para santrinya dan beberapa keluarga Kyai di pinggir mesjid yang sekaligus dekat dengan
madrasah banguan dari para santrinya. Kyai dimakamkan disana karena usulan dari
salah satu anaknya Kyai yaitu Ustad Ilham yang pernah mendengar wasiatnya Kyai
bahwa Ia ingin dimakamkan di dekat masjid. “Bapak ingin mendengar suara
tadarusan –yaitu bacaan Qur’an- dan
solawatnya para santri” kata Ustad Ilham mendengar wasiat Ayahnya dulu.
Selesai
sudah pemakamam Kyai Yusuf, tapi haru masih menyelimbuti seluruh keluarga
Pesantren.
“Mir
ini surat dari Kyai yang diberikan ke Ustad sewaktu Yai sakit” ujar Ustad Ilham
menoleh ke arah Amir sambil memberikan selembar surat setelah keduanya selesai
menunaikan solat isya berjama’ah.
“Ustad
tak berani memberikannya tadi, karna Ustad faham akan keadaanmu” lanjutnya pada
amir dengan nada yang membuat amir tak bisa berkata apa apa.
“Muhun Tad, Nuhun”
jawab Amir yang berarti terima kasih.
Dibacalah surat
pemberian Ustad Ilham tadi. Yai bicara bahwa Ia sangat menyayangi Amir dan sudah menganggap sebagai anaknya
sendiri. Air mata Amir seketika kembali berjatuhan ketika Ia membaca surat kecil
dari Kyai. Ia tak bisa lagi berbuat banyak pada Kyai. Ia hanya memohon agar
Kyai diberikan tempat yang layak disisi sang pencipta.Kyai beramanat agar semua
santri saling menyadari bahwa semua umat islam itu bersaudara. Entahlah mungkin
karena Kyai suka melihat semua santrinya yang sangat rukun seperti satu
keluarga besar.
Banyak kebiasaan
santri yang sudah didengar orang banyak. Salah satunya ya menyadari bahwa
sesama orang adalah bersaudara dan saling memiliki. Jika ini ditanamkan di
banyak tempat, ku kira semua masalah dapat terpecahkan dengan damai. Karna
itulah benar bahwa dengan slogan “Bersama Santri Damailah Negri” -aku tidak
berniat promosi dan jika iya ma’af maksudku tidak seperti itu-.
Good Writer!
BalasHapusmantap...bagus baguslah
Hapustakbirrrr jos...
BalasHapusJayieeeeed!!!
BalasHapusKami segenap civitas SMK TB, mendukung dan mendorong kalian semua...
BalasHapusBravoo Azis Faturrohman kls x_mm
https://azfathurrahman.blogspot.com/2018/11/cerpen-santri-hari-santri-ini-adalah.html?m=1
BalasHapus